Langsung ke konten utama

Cerita Dongeng Rakyat Indonesia dalam Bahasa Inggris dan Terjemahannya (Part 2)

 6. Keong Mas

Ilustrasi dongeng Keong Mas

Golden Snail (Keong Mas) – English Version

Once upon a time, in the ancient kingdom of Daha, lived a wise and noble king who had two beautiful daughters: Princess Dewi Galuh Ajeng and Princess Dewi Candra Kirana. Though both were lovely, Candra Kirana was not only beautiful but also kind and beloved by the people.

One day, Prince Raden Inu Kertapati from the neighboring kingdom visited Daha. He fell in love with Candra Kirana, and the two were engaged to be married. But not everyone was happy.

Dewi Galuh Ajeng, filled with jealousy, wanted the prince for herself. She secretly consulted a dark sorceress who placed a cruel curse on her sister. Candra Kirana was turned into a golden snail and cast into the river, vanishing from the palace without a trace.

The king and people mourned her loss. Prince Inu Kertapati, heartbroken, began a long journey across forests and mountains to find his fiancée, not knowing she had been transformed.

Meanwhile, the golden snail was carried by the current to a quiet village. One day, an old kind-hearted widow named Mbok Rondo found the shining snail near the riverbank. Surprised by its beauty, she took it home and placed it in a jar near the window.

What she didn’t know was that every night, while she slept, the snail would transform back into Princess Candra Kirana. The princess would clean the house, cook delicious food, and leave the house sparkling by morning.

One day, Mbok Rondo pretended to sleep and secretly watched. To her amazement, she saw the snail transform into a radiant princess. The next morning, she confronted her kindly.

Candra Kirana explained everything, and Mbok Rondo vowed to protect her. Soon, news of the mysterious, kind girl living in the village reached Prince Inu Kertapati. He rushed to the village—and there, at last, he found his beloved.

The dark sorceress’s magic was broken by the power of true love. Dewi Galuh Ajeng was exiled for her betrayal, and Candra Kirana married the prince in a grand ceremony. The villagers cheered, and Mbok Rondo was honored as a guest of the royal family.

From then on, the story of Keong Mas lived on as a tale of kindness, patience, and the triumph of love over jealousy.


Keong Mas – Versi Bahasa Indonesia

Alkisah di kerajaan Daha, hiduplah seorang raja bijak yang memiliki dua putri cantik: Dewi Galuh Ajeng dan Dewi Candra Kirana. Keduanya sama-sama cantik, tetapi Candra Kirana juga dikenal karena hatinya yang baik dan sifatnya yang lembut. Rakyat sangat mencintainya.

Suatu hari, Pangeran Raden Inu Kertapati dari kerajaan tetangga datang berkunjung. Ia jatuh cinta pada Candra Kirana, dan mereka pun bertunangan. Namun, tidak semua orang senang.

Dewi Galuh Ajeng diam-diam iri. Ia ingin menjadi istri pangeran. Dengan hati dengki, ia pergi ke seorang penyihir jahat dan meminta agar saudaranya disingkirkan. Sang penyihir mengutuk Candra Kirana menjadi seekor keong emas, lalu melemparkannya ke sungai.

Kerajaan geger, sang raja dan seluruh rakyat bersedih. Pangeran Inu Kertapati yang hancur hatinya pergi mengembara mencari tunangannya yang hilang.

Sementara itu, keong emas terbawa arus sungai hingga ke sebuah desa kecil. Di sana, seorang janda tua yang baik hati bernama Mbok Rondo menemukannya di tepi sungai. Karena indah, ia membawa keong itu pulang dan meletakkannya dalam kendi.

Tanpa diketahui Mbok Rondo, setiap malam saat ia tertidur, keong emas berubah menjadi Candra Kirana. Sang putri membersihkan rumah, memasak makanan lezat, dan membuat rumah Mbok Rondo menjadi nyaman dan bersih.

Suatu malam, Mbok Rondo pura-pura tidur dan mengintip. Ia terkejut melihat keong emas berubah menjadi seorang putri jelita. Keesokan paginya, ia menanyakan hal itu dengan lembut.

Candra Kirana pun menceritakan segalanya. Mbok Rondo berjanji akan melindunginya. Kabar tentang gadis baik hati yang tinggal di desa itu sampai ke telinga Pangeran Inu. Ia segera datang—dan akhirnya, ia menemukan Candra Kirana kembali.

Kutukan penyihir pun hancur karena kekuatan cinta sejati. Dewi Galuh Ajeng dihukum dan diasingkan dari istana. Candra Kirana dan sang pangeran menikah dengan pesta meriah, dan Mbok Rondo diundang menjadi tamu kehormatan.

Sejak itu, legenda Keong Mas dikenang sebagai kisah tentang kesabaran, ketulusan, dan cinta yang mengalahkan iri hati.


7. Lutung Kasarung

Ilustrasi dongeng Lutung Kasarung

Lutung Kasarung – English Version

Once upon a time in the Kingdom of Pasir Batang, there lived a wise king with two daughters: Princess Purbasari, the younger, and Princess Purbararang, the elder. Purbasari was gentle, kind, and beloved by the people. Purbararang, on the other hand, was arrogant and jealous of her sister's grace and popularity.

One day, the king decided to step down and choose his successor. He named Purbasari as crown princess. This enraged Purbararang, who believed she was more deserving. In her anger, she sought help from a dark sorceress who cursed Purbasari—her skin became covered in hideous black spots.

Humiliated and accused of witchcraft, Purbasari was banished deep into the forest.

Though heartbroken, Purbasari remained kind and calm. In the forest, she met a mysterious black monkey named Lutung Kasarung, who was no ordinary creature—he was actually Prince Guru Minda, a powerful celestial being in disguise, sent from the heavens to help her because of her pure heart.

With Lutung Kasarung’s help, the forest transformed into a magical garden. Water flowed from rocks, fruits grew overnight, and Purbasari regained her strength. Over time, the marks on her skin disappeared, thanks to the holy water Lutung secretly summoned from the heavens.

News of the miraculous garden spread far and wide, even reaching the palace. Curious and envious, Purbararang came to visit. When she saw her sister had become even more beautiful than before, she challenged her.

“If you’re really fit to be queen, show us your fiancé!” mocked Purbararang.

Purbasari, shyly, pointed to Lutung Kasarung. The court burst into laughter, mocking her for choosing a monkey. But before anyone could insult him again, Lutung Kasarung suddenly transformed into a handsome, radiant prince.

Everyone was stunned.

It was revealed that he was a celestial prince, sent by the gods to guide the rightful queen. Purbararang was stripped of her titles, and Purbasari was crowned queen with Prince Guru Minda by her side.

They ruled with love and wisdom, and their story lived on as a tale of humility, virtue, and the hidden rewards of a kind heart.


Lutung Kasarung – Versi Bahasa Indonesia

Dahulu kala di Kerajaan Pasir Batang, hiduplah seorang raja bijaksana yang memiliki dua orang putri: Putri Purbasari, sang bungsu yang lembut hati, dan Putri Purbararang, sang sulung yang angkuh dan iri hati.

Ketika sang raja hendak turun takhta, ia memilih Purbasari sebagai penerusnya. Purbararang marah besar. Ia merasa lebih pantas menjadi ratu dan tak terima adiknya yang dipilih. Dengan penuh dendam, ia bekerja sama dengan seorang penyihir jahat untuk menyihir Purbasari. Akibatnya, kulit Purbasari dipenuhi bintik hitam yang menjijikkan.

Istana gempar. Purbararang memfitnah adiknya sebagai pembawa kutukan. Purbasari pun dibuang ke dalam hutan belantara.

Di tengah penderitaannya, Purbasari tetap sabar dan ikhlas. Di hutan, ia bertemu seekor lutung hitam yang cerdas dan baik hati. Nama hewan itu adalah Lutung Kasarung. Namun, ia bukan lutung biasa—ia adalah Pangeran Guru Minda, titisan dewa dari kahyangan, yang menyamar untuk menguji manusia berhati mulia.

Lutung Kasarung membantu Purbasari. Hutan tempat tinggal mereka berubah menjadi taman ajaib. Mata air muncul dari batu, buah tumbuh semalaman, dan luka di hati Purbasari perlahan sembuh. Bahkan kulitnya kembali bersih dan bercahaya setelah dimandikan dengan air suci dari kahyangan yang diam-diam dibawa Lutung.

Kabar tentang taman ajaib itu tersebar hingga ke istana. Purbararang, penasaran dan masih iri, datang menjenguk. Ia terkejut melihat adiknya kini lebih cantik dari sebelumnya. Dengan sinis ia berkata, “Kalau kau memang pantas jadi ratu, tunjukkan siapa calon suamimu!”

Purbasari dengan tenang menunjuk Lutung Kasarung. Semua orang tertawa mengejeknya. Namun dalam sekejap, Lutung Kasarung berubah menjadi seorang pangeran tampan dengan cahaya yang bersinar dari tubuhnya.

Semua terdiam. Dewa-dewa pun turun memberi restu.

Purbasari dinobatkan menjadi ratu. Purbararang dicopot dari status bangsawannya dan hidup dalam pengasingan. Purbasari dan Pangeran Guru Minda memimpin kerajaan dengan cinta dan kebijaksanaan.

Legenda Lutung Kasarung terus dikenang sebagai kisah tentang kebaikan, ketulusan, dan bahwa cinta sejati tidak melihat rupa luar, tetapi hati yang tulus.


8. Ande-Ande Lumut

Ande-Ande Lumut – English Version

Once upon a time, in the Kingdom of Jenggala, there was a young man named Ande-Ande Lumut. He was actually a prince in disguise, searching for a pure-hearted woman to become his wife. He settled in a small village near the river and announced that he would choose his bride from among the young women of the land.

Far away, in a humble house, lived an old widow with her three daughters: Kleting Abang, Kleting Ijo, and Kleting Biru, and her stepdaughter, Kleting Kuning. While the three stepsisters were rude, spoiled, and lazy, Kleting Kuning was kind, hardworking, and modest.

When news spread that Ande-Ande Lumut was seeking a wife, the three sisters dressed in their finest clothes and rushed to meet him. But on their way, they encountered a magical giant crab named Yuyu Kangkang, who guarded the river crossing.

Yuyu Kangkang offered to carry them across, but with one condition: they must let him kiss them. Eager to arrive quickly and win the prince, they agreed.

When Kleting Kuning heard about this, she too wanted to go, but her stepmother forbade her. Thankfully, a kind old woman helped her prepare. She dressed simply, but with inner grace that outshone gold and silk. When she reached the river, Yuyu Kangkang appeared again, but Kleting Kuning refused his condition.

“I would rather walk than lose my dignity,” she said firmly.

Amazed by her strength of character, Yuyu Kangkang let her pass freely.

When she arrived at the palace, Ande-Ande Lumut immediately sensed her sincerity and purity. Though she wore plain clothes, her soul shone brightly. He rejected the other three sisters—because he knew they had accepted a dishonorable bargain—and chose Kleting Kuning as his queen.

They were married, and the people rejoiced.


Ande-Ande Lumut – Versi Bahasa Indonesia

Pada zaman dahulu, di Kerajaan Jenggala, hiduplah seorang pemuda bernama Ande-Ande Lumut. Ia sebenarnya adalah seorang pangeran yang sedang menyamar, mencari perempuan berhati tulus untuk dijadikan istri. Ia tinggal di sebuah desa kecil dekat sungai dan mengumumkan bahwa ia akan memilih calon istri dari gadis-gadis yang datang kepadanya.

Di tempat lain, hiduplah seorang janda tua dengan tiga putrinya: Kleting Abang, Kleting Ijo, dan Kleting Biru, serta satu anak tiri bernama Kleting Kuning. Ketiga putri kandungnya manja, kasar, dan pemalas, sementara Kleting Kuning rajin, lembut, dan rendah hati.

Saat mendengar kabar tentang pencarian calon istri oleh Ande-Ande Lumut, ketiga kakak tiri segera berdandan mewah dan bergegas berangkat. Di tengah perjalanan, mereka harus menyeberangi sungai yang dijaga oleh Yuyu Kangkang, seekor kepiting raksasa ajaib.

Yuyu Kangkang bersedia mengantar mereka menyeberang, tetapi dengan syarat: ia harus mencium mereka. Karena ingin cepat sampai dan tampil cantik di depan pangeran, mereka pun setuju.

Kleting Kuning yang juga ingin pergi, dilarang oleh ibu tirinya. Namun seorang nenek baik hati membantunya. Ia berpakaian sederhana, tetapi wibawa dan kecantikannya muncul dari ketulusan hati. Ketika sampai di sungai, Yuyu Kangkang muncul kembali dan menawarkan syarat yang sama. Tapi Kleting Kuning menolak dengan tegas.

“Aku lebih baik berjalan kaki daripada mengorbankan harga diriku,” katanya.

Yuyu Kangkang kagum dan membiarkannya lewat tanpa syarat.

Saat tiba di hadapan Ande-Ande Lumut, sang pangeran langsung merasa bahwa Kleting Kuning adalah wanita yang selama ini ia cari. Ia menolak ketiga kakak tiri karena telah menggadaikan kehormatan mereka, dan memilih Kleting Kuning sebagai istrinya.

Mereka menikah dan memerintah dengan adil dan bijak.


9. Roro Jonggrang


Roro Jonggrang – English Version

Long ago in Central Java, there were two great kingdoms: Pengging and Prambanan. The two were at war, and eventually, Pengging, led by the powerful and magical Prince Bandung Bondowoso, defeated Prambanan and killed its king.

After conquering the kingdom, Bandung Bondowoso saw the king’s daughter, the beautiful Princess Roro Jonggrang, and immediately fell in love with her. He asked her to be his queen.

However, Roro Jonggrang hated him for killing her father. But fearing further destruction, she did not refuse directly. Instead, she gave Bandung an impossible condition: she would marry him if he could build a thousand temples in one night.

Bandung Bondowoso, confident in his supernatural powers, agreed. He meditated and summoned spirits and demons to help him build the temples.

By midnight, 999 temples had already been completed. Roro Jonggrang began to panic. With the help of the village women, she lit fires in the east and started pounding rice—imitating the sounds and light of dawn. The spirits, thinking the sun was rising, fled in fear.

When Bandung found out about her trickery, he was furious.

“You’ve broken your promise!” he shouted.

He pointed his finger at Roro Jonggrang and cursed her to become the final, thousandth statue.

Legend says the stone statue of a woman in Candi Prambanan (Prambanan Temple) is Roro Jonggrang herself, standing eternally as a symbol of broken promises and clever resistance.


Roro Jonggrang – Versi Bahasa Indonesia

Dahulu kala di Jawa Tengah, terdapat dua kerajaan besar: Pengging dan Prambanan. Kedua kerajaan ini berperang, dan akhirnya Kerajaan Pengging, yang dipimpin oleh Pangeran Bandung Bondowoso, mengalahkan Prambanan dan membunuh rajanya.

Setelah menaklukkan kerajaan itu, Bandung Bondowoso melihat putri sang raja, yaitu Roro Jonggrang, dan jatuh cinta pada pandangan pertama. Ia langsung melamar sang putri.

Namun Roro Jonggrang membenci Bandung Bondowoso karena telah membunuh ayahnya. Tapi karena takut akan kehancuran lebih lanjut, ia tak berani menolak secara langsung. Sebagai gantinya, ia memberikan syarat yang tampaknya mustahil: ia mau menikah jika Bandung Bondowoso bisa membangun seribu candi dalam satu malam.

Dengan percaya diri akan kekuatan supranaturalnya, Bandung menyanggupi. Ia bermeditasi dan memanggil jin serta makhluk halus untuk membantunya.

Menjelang tengah malam, 999 candi telah selesai. Roro Jonggrang mulai panik. Ia lalu meminta para gadis desa menyalakan api di timur dan menumbuk padi agar terdengar suara pagi hari. Para makhluk halus mengira fajar telah tiba, dan lari ketakutan.

Mengetahui tipu muslihat itu, Bandung Bondowoso marah besar.

“Kau melanggar janjimu!” teriaknya.

Ia mengutuk Roro Jonggrang menjadi candi ke-seribu, patung batu yang berdiri abadi di Candi Prambanan.

Konon, patung wanita yang ada di sana adalah Roro Jonggrang sendiri, simbol dari janji yang dikhianati dan perlawanan yang cerdas.


10. Cindelaras


Cindelaras – English Version

In the ancient kingdom of Jenggala, a wise king had a beautiful queen. But due to palace intrigue, the queen was falsely accused and banished to the forest while pregnant.

There, she gave birth to a boy named Cindelaras. He grew up strong, smart, and kind. One day, Cindelaras found a magical talking rooster who told him about his true heritage—that he was the son of the King of Jenggala.

The rooster was also no ordinary bird—it was unbeatable in cockfights.

Curious and determined to seek the truth, Cindelaras traveled to the palace with his rooster. On the way, he challenged many nobles in cockfights and won every match.

Word of the boy and his magical rooster reached the king. Amused, the king invited Cindelaras to the palace for a match. The rooster of Cindelaras once again won.

Impressed, the king asked about the boy’s identity. Cindelaras then told the story of his mother. Shocked and moved, the king investigated and found out the queen had been falsely accused.

The queen was brought back, and Cindelaras was acknowledged as the prince. The jealous concubine who had plotted against the queen was exiled. Peace and justice returned to the kingdom.


Cindelaras – Versi Bahasa Indonesia

Pada zaman dahulu, di kerajaan Jenggala, hiduplah seorang raja bijaksana yang memiliki seorang permaisuri cantik. Namun karena fitnah dari selir yang iri hati, sang permaisuri dituduh palsu dan dibuang ke hutan dalam keadaan hamil.

Di hutan, ia melahirkan seorang anak laki-laki yang diberi nama Cindelaras. Ia tumbuh menjadi anak yang cerdas, kuat, dan berhati baik. Suatu hari, ia menemukan seekor ayam jantan ajaib yang bisa berbicara dan mengungkapkan bahwa Cindelaras adalah putra dari Raja Jenggala.

Ayam itu juga bukan ayam biasa—ia selalu menang dalam adu ayam.

Ingin mengetahui kebenaran dan membela kehormatan ibunya, Cindelaras pergi ke istana. Dalam perjalanannya, ia menantang banyak bangsawan dalam adu ayam dan selalu menang.

Berita tentang anak ajaib dan ayam sakti itu sampai ke telinga sang raja. Sang raja pun memanggilnya untuk bertanding. Ayam Cindelaras kembali menang.

Terpesona, raja bertanya siapa anak itu sebenarnya. Cindelaras menceritakan asal-usulnya dan ibunya. Sang raja pun menyelidiki dan menemukan bahwa permaisuri memang difitnah.

Akhirnya, permaisuri dipulangkan dan Cindelaras diakui sebagai pangeran sejati. Sang selir jahat diasingkan. Kerajaan kembali damai dan adil.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerita Dongeng Rakyat Indonesia dalam Bahasa Inggris dan Terjemahannya (Part 1)

1.  Malin Kundang – The Tale of the Ungrateful Son English Version Long ago, in a humble fishing village on the coast of West Sumatra, lived a widow named Mande Rubayah and her only son, Malin Kundang. Despite their poverty, Mande Rubayah showered Malin with love and raised him with strong moral values. Malin grew into a diligent and intelligent young man, often helping his mother with daily chores and dreaming of a better life beyond their village. ​ One day, a large merchant ship docked at their village. The captain, impressed by Malin's demeanor, offered him a position as a crew member. Malin saw this as an opportunity to change his fate and pleaded with his mother to let him go. Though her heart was heavy, Mande Rubayah agreed, reminding him to stay humble and to return home. ​ Years passed, and Malin became a successful merchant, amassing wealth and marrying a beautiful woman from a noble family. One day, his ship anchored near his native village. Mande Rubayah, hearin...

Sejarah Hari Pendidikan Nasional di Indonesia

  Pendahuluan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) yang diperingati setiap tanggal 2 Mei di Indonesia bukan hanya sekadar seremoni tahunan, tetapi momen refleksi atas perjuangan panjang mencerdaskan kehidupan bangsa. Tanggal ini dipilih untuk mengenang tokoh besar pendidikan Indonesia, Ki Hadjar Dewantara , yang lahir pada 2 Mei 1889. Siapa beliau? Mengapa jasanya begitu besar hingga dijadikan simbol pendidikan nasional? Asal Usul Hari Pendidikan Nasional Penetapan Hari Pendidikan Nasional tertuang dalam Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 316 Tahun 1959 , yang menetapkan tanggal 2 Mei sebagai hari besar nasional non-libur. Alasan utamanya adalah untuk menghormati dan mengenang Ki Hadjar Dewantara , bapak pendidikan Indonesia yang mengabdikan hidupnya demi perubahan sistem pendidikan yang inklusif dan berkeadilan di tanah air. Siapa Ki Hadjar Dewantara? Ki Hadjar Dewantara adalah nama kehormatan dari Raden Mas Soewardi Soerjaningrat , seorang bangsawan Yogyakarta ya...